Rabu, 08 Mei 2013

Kenakalan Remaja


Bina Generasi Muda, Cegah Kenakalan Remaja
Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa para remaja yang memang masih dalam masa transisi kerap melakukan hal-hal yang tidak bisa diterima oleh orang-orang di sekitarnya. Selain bisa merugikan diri sendiri, perilaku mereka juga tidak jarang merugikan orang lain.
Masa kanak-kanak, remaja, dewasa, dan kemudian menjadi orangtua, tidak lebih hanyalah merupakan suatu proses wajar dalam hidup yang berkesinambungan dari tahap-tahap pertumbuhan yang harus dilalui oleh seorang manusia. Setiap masa pertumbuhan memiliki ciri-ciri tersendiri. Masing-masing mempunyai kelebihan dankekurangan. Demikian pula dengan masa remaja. Masa remaja sering dianggap sebagai masa yang paling rawan dalam proses kehidupan ini. Masa remaja sering menimbulkan kekuatiran bagi para orangtua. Masa remaja sering menjadi pembahasan dalam banyak seminar. Padahal bagi si remaja sendiri, masa ini adalah masa yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Oleh karena itu, para orangtua hendaknya berkenan menerima remaja sebagaimana adanya. Jangan terlalu membesar-besarkan perbedaan. Orangtua para remaja hendaknya justru menjadi pemberi teladan di depan, di tengah membangkitkan semangat, dan di belakang mengawasi segala perilaku si remaja.
Masa remaja merupakan masa yang sangat menentukan masa depan seseorang. Masa setelah anak-anak menginjak usia baligh yang rata-rata dimulai sejak usia belasan tahun pertama itu telah melepas mereka dari masa kanak-kanak. Namun demikian, mereka belum memiliki kecakapan untuk disebut dewasa. Sebab itulah tingkah polanya tak lagi mencerminkan tingkah pola anak-anak dan lepas dari kedewasaan. Tingkah polanya cenderung tidak memperhatikan aturan.
Dalam kehidupan para remaja seringkali kita temui  hal-hal yang positif ataupun negative dalam pergaulannya dengan lingkungan sekitar, baik lingkungan dengan teman-temannya di sekolah maupun di lingkungan tempat ia tinggal karena masa remaja merupakan masa transisi dimana seorang remaja masih mencari Jati diri sehingga masih dalam hal pergaulan tingkat emosinya masih sangat labil dan mudah terombang-ambing. Oleh karena itu mereka sering ingin mencoba sesuatu hal yang baru, misalnya soal penampilan dan gaya hidup. Ada sebagian dari mereka lebih suka berfoya-foya dan melakukan hal-hal yang menyimpang yang menurut anggapan mereka itu adalah bagian dari gaya hidup masa kini, padahal itu merupakan sebuah bentuk kenakalan.
Kenakalan remaja dipicu oleh dua factor utama : internal, yaitu factor dari diri remaja itu sendiri, dan eksternal, yaitu factor dari luar diri mereka. Krisis identitas dan control diri yang rapuh merupakan factor internal kenakalan remaja. Karena para remaja tidak bisa meyakini identitas tertentu yang harus ia perankan, dan karena ia gagal membentuk dirinya mencapai identitas tertentu, maka mereka menjadi nakal. Karena para remaja tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima, maka mereka akan terseret pada perilaku ‘nakal’.
Adapun factor eksternal kenakalan remaja minimalnya ada tiga : keluarga, teman dan para sahabatnya, serta lingkungannya.
Kegagalan orang tua dalam membina rumah tangganya, perceraian, tidak adanya komunikasi yang baik antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga, semua itu bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Yang lebih utama memicu kenakalan remaja ialah bila keluarga tidak memberikan pendidikan agama dengan sebaik-baiknya. Teman serta sahabat dekat yang buruk dan jauh dari kesolehan juga komunitas tempat tinggal yang tidak benar pun bisa memicu kenakalan remaja.
Sudah kita maklumi bersama, kenakalan remaja pada zaman kita sekarang ini sungguh berada pada kondisi yang memperihatinkan. Selain karena factor dari luar berupa pendidikan dan pemikiran ala barat yang cenderung negatif, faktordari dalam berupa pendidikan keluarga pun ikut andil besar dalam masalah ini. Tentunya kita butuh solusi untuk memecahkan permasalahan tersebut.
Untuk mengatasi dua factor tersebut, baik internal maupun eksternal, Islam telah memberikan solusi terbaik. Dari awalnya Islam telah memberikan metode pengajaran anak dengan sistem keteladanan. Metode ini yang akan menumbuhkan identitas peran bagi para remaja.
Metode  menumbuhkan ketakwaan sejak dini pada diri anak-anak telah dicontohkan oleh para pendahulu yang terdahulu. Mereka semua menanamkan ketakwaan sejak dini pada anak-anaknya. Sehingga mereka tumbuh sebagai generasi yang tangguh dan soleh dan jauh dari kenakalan.
Adapun  solusi permasalahan yang dapat di lakukan dalam hal untuk mencegah Perilaku yang menyimpang pada kalangan Remaja adalah sebagai berikut:
1.      Perlunya Kasih sayang dan perhatian dari orang tua Dalam hal apapun.
2.      Adanya pengawasan dari Orang tua yang tidak mengekang, contoh: kita boleh saja membiarkan dia melakukan apadaja yang masih sewajarnya, dan apabila menurut pengawasan kita sebagai orang tua dia telah melewati batas yang sewajarnya,maka sebagai orang tua kita perlu memberikan pemahaman tentang dampak dan akibat yang harus ditanggungnya bila dia terus melakukan hal yang sudah melewati batas tersebut.
3.     Biarkanlah dia bergaul dengan teman yang sebaya, yang hanya beda umur 2 atau 3 tahun lebih tua darinya. Karena apabila kita membiarkan dia bergaul dengan teman main yang sangat tidak sebaya dengannya, yang ada gaya hidupnya sudah pasti berbeda, maka diapun bisa terbawa gaya hidup yang mungkin seharusnya belum perlu dia jalani.
4.     Pengawasan yang perlu dan intensif terhadap media komunikasi seperti Televisi, Radio, Handphone,internet,dll
5.      Perlunya bimbingan kepribadian di sekolah, karena disanalah tempat anak banyak menghabiskan waktunya selain di Rumah
6.     Perlunya Pembelajaran Agama yang dilakukan sejak dini, seperti beribadah, dan mengunjungi tempat- tempat ibadah sesuai dengan iman dan kepercayaan yang dianut
7.     Sebagai Orang tua harus mendukung Hobi yang dia inginkan selama itu positif untuk dia. Jangan pernah mancegah hobinya maupun kesempatan untuk dia mengembangkan bakat yang dia sukai selama bersifat positif. Karena dengan melarangnya maka akan mengganggu kepribadian dan kepercayaan dirinya
8.     Orang tua harus bisa menjadi tempat curhat yang nyaman untuk anak anda, sehingga dapat membimbing dia ketika ia sedang menghadapi masalah.

Tinggal, tugas para orang tua yang pertama ialah membina rumah tangganya sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif serta nyaman bagi seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak. Kemudian memberi motivasi dan mengarahkan agar anak-anak menjadi pandai memilih teman, lingkungan, dengan siapa dan di komunitas mana mereka harus bergaul. Tanamkan ketakwaan dengan mengajarkan Islam secara menyeluruh sehingga anak-anak akan mampu membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang tidak benar. Inilah para PR para orang tua dan kita bersama membentuk generasi yang jauh dari kenakalan remaja yang sekarang sudah merajalela.

Kamis, 02 Mei 2013

My First Love Part 2


My First Love
Part 2
Kisah cinta monyetku ini berlanjut sampai aku duduk di sekolah tinggi menengah atas (SMA). Terkadang aku masih memikirkan cinta pertamaku itu. Masih mencari informasi lebih tentangnya. Berharap bisa bertemu dan berkenalan secara resmi dengannya. Waktu terus berjalan sampai aku menemukan cinta yang lain di masa SMA ku ini. Aku menjalani hubungan dengan teman satu sekolahku tapi berbeda kelas. Aku berusaha untuk melupakan sejenak tentang cinta pertamaku dan melihat pada orang yang ada disampingku sekarang yang menjadi kekasihku sekarang.
Sudah hampir satu tahun setelah aku lulus dari sekolah menengah pertama (SMP) dan sudah lama juga aku meninggalkan kenangan tentang cinta pertamaku di bangku SMP itu. Aku mulai mengenang kembali masa-masa SMP ku itu. Aku mengenang bagaimana aku menjalani setengah hariku di sekolah. Menghabiskan waktu bersama teman-teman, bergosip tentang laki-laki yang kami idamkan, mengenang bagaimana reaksi dari masing-masing kami jika melihat laki-laki idaman kami lewat dihadapkan kami. Itu membuatku tertawa sendiri jika mengenang masa itu.
Aku diam-diam masih memikirkan cinta pertamaku padahal aku sudah mempunyai kekasih. Cinta pertama memang sulit untuk dilupakan. Selama aku menjalani pendidikan di SMA aku tidak pernah bertemu dengan Rio. Aku selalu berharap jika melewati depan rumahnya dan berharap dia sedang berdiri dihalamannya. Namun sayang, aku tidak pernah melihatnya.
Sudah tiga tahun berjalan, aku pun lulus dari sekolah menengah atas. Kelulusan menghentikan kegiatan-kegiatan belajar di kelas, menghentikan kebersamaan kelas, menghentikan kegiatan dikantin sekolah, dll. Kelulusan ini juga menghentikan hubunganku dengan kekasihku. Kami mencoba bertahan selama tiga tahun kebersamaan kami, tapi apadaya waktu telah merusak semuanya. Kami berpisah setelah pengumuman kelulusan. Aku kecewa dengan keputusan ini tapi bagaimana lagi, sudah tidak ada rasa nyaman lagi dalam menjalani hubungan kami ini.
Dengan berlalunya waktu dari masa SMA masuk ke dalam dunia perkuliahan. Aku memutuskan untuk berkuliah di sebuah perguruan tinggi swasta yang ada di Jakarta. Tahun pertama aku masih focus pada kuliah dan melupakan sejenak tentang cinta dan pasangan. Aku meninggalkan sejenak tentang dunia maya. Aku menonaktifkan akun facebook ku.
Tapi saat aku membuka akun tersebut ada notification dari teman lama ku di SD. Teman SD ku ini adalah teman dari Rio. dari situ timbullah rasa ingin tahu lagi tentang Rio. Aku mulai mendekati temanku ini dan mulai bertanya tentang Rio. Aku menanyakan apakah dia masih suka kumpul bersama Rio. Dan ternyata memang kalo jodoh itu tidak kemana, aku mendapatkan alamat akun facebook Rio dan memulai pertemanan dengannya. Aku melihat foto profilnya, tidak banyak yang berubah dari wajahnya, namun sekarang dia sudah tampak dewasa dengan bulu-bulu kecil yang timbuh di dagunya. Senang bisa melihat wajah dan bibirnya yang kecil. Jantungku mulai berdegup, dan mulai merasakan rasa itu kembali. Aku merasa kembali ke perasaanku dulu saat aku bertemu pertama kali dengannya. Aku mulai berpikir, apakah ini petunjuk dari yang diatas tentang hubungan ku dengannya. Aku mulai merasa ragu dengan diriku ini. Aku bingung memulai darimana saat aku sudah bisa lebih dekat dengannya.
Apakah aku yang harus memulai pembicaraan dengannya ?. Aku tidak mampu berkata-kata saat dia sudah ada dalam pertemanan denganku. Aku hanya bisa melihat timelinenya, berharap tidak ada pesan dari seorang yang dekat dengannya. Aku berharap dia belum mempunyai seorang kekasih. Aku senang mempunyai akun facebooknya, aku jadi bisa melihat foto-fotonya. Senang bisa melihat wajahnya yang begitu misterius dan senyum kecil diwajahnya.
Waktu sudah berjalan lebih dari enam bulan setelah aku berteman dengan Rio di facebook. Aku masih belum bisa memberanikan diri untuk menyapanya lewat facebook. Aku masih malu dan takut jika dia tidak membalasnya. Aku berharap kalo dia mengenaliku. Namun sepertinya dia tidak sadar akan kehadiranku.
Waktu terus berlalu, dan aku akhirnya memutuskan untuk men-chat Rio saat dia juga sedang on chat nya. “ hai rio”, itulah yang aku ucapkan padanya. Dengan jantung berdegup kencang menunggu balasan darinya. Detik demi detik berlalu, menit demi menit pun berlalu, harapan ku untuk mendapat balasan darinya pun mulai berkurang. Rasanya ingin marah karena dia sombong, tidak membalas chat-anku.
Aku pun menyesal telah memulai menyapanya lebih dulu. Malu rasanya. Tidak berani lagi untuk berbicara dengannya lewat chat jika dia aktif chat-nya. Aku pun mulai ragu dengan keyakinanku tentang kalo kami ini jodoh. Aku benar-benar putus asa saat itu.
Aku mulai melupakan kejadian itu, dan tidak pernah berharap lagi dari chat-anku padanya. Aku juga tidak berharap banyak saat aku melewati depan rumahnya dan melihatnya ada disana. Namun tuhan berkata lain, aku melihatnya sedang membeli jajanan tahu gejrot di depan rumahnya. Dalam sekejap, muncul pikiran untuk menjadikan alasan ini untuk mengchat-nya lagi. Setelah sampai dirumah aku langsung membuka laptop dan me-login facebook dan berharap rio sedang on chat-nya. Aku terus berharap kalo dia akan on walaupun tidak saat itu juga. Setelah ditunggu akhirnya dia on chat-nya. Dan tanpa berpikir lagi, jari-jari ku ini mulai mengetik beberapa kalimat. “tadi beli tahu gejrot buat siapa?”, tulisku untuknya.
Tanpa aku harapkan, dia membalas chat ku ini, “iya, buat keponakan. Tadi lewat ya ?” jawab Rio padaku. Betapa senangnya melihat chat ku dibalas oleh rio. aku tersenyum senang tidak percaya. Jariku gemetaran ingin membalas chat-nya. Akhirnya aku kuatkan diriku dan mulai mengetik lagi, “iya tadi lewat, buat anaknya mba eka?” jawabku.
“iya,buat anaknya mba eka, rul” jawabnya. Aku terpaku melihat kata terakhir yang ditulinya. “rul”, begitu dia memanggil namaku. Entah aku harus marah atau senang karena dia memanggilku “rul”. Ada rasa senang yang berlebihan pada diriku, senang karena ini pertama kalinya dia memanggil namaku. Akhirnya aku memulai pembicaraan ini dengan pertanyaan yang menurutku memang tidak perlu, tapi jika untuk bisa mengobrol bersama rio, aku memulainya duluan. “alumni 217 ya?” tanyaku.
“iya, kok tau?” jawab rio padaku. Aku pun membalasnya lagi, “iya tau, gw kan ade kelas lw di 217” balasku.
“hah ? gw baru tau kalo lw alumni kc” katanya. “iya, gw dua tahun dibawah lw tapi” balasku. “kok gw ga sadar ya kalo lw alumni kc juga” kata rio.
“lw tau gw?” tanyaku. “iya tau, adenya temen mba eka kan?” jawab rio.
Aku kaget karena dia tahu siapa diriku, “kok tahu darimana?” tanyaku. “tahu kalo lw adenya temennya mba eka” jawab rio. “oh, gw kira lw tau gw karna sering liat gw di 217”, jawabku sambil menghela napas karena kecewa.
Pembicaraan pun selesai sampai disitu, tidak ada lagi yang ingin aku tanyakan padanya. Jawaban terakhirnya membuatku lemas dan sudah ingin segera mematikan laptop rasanya.
Tapi aku merasa senang dengan terbalasnya chat ku. Aku merasa senang, karena dia tahu sedikit tentang diriku ini. Aku berharap jika memang kami berjodoh, tuhan akan memberikan jalan yang lebih dekat lagi pada kami selain melalui facebook. Aku masih menjadikannya cinta pertamaku dan aku tidak akan pernah bisa mengeluarkannya dari ingatanku.

My First Love


My First Love
Aku baru duduk di kelas lima SD saat itu  umurku mungkin baru 10-11 tahun. Aku bertemu dengannya saat ada acara tujuh belas agustus di lapangan dekat rumah ku dan rumahnya. Saat itu dia sedang bersama teman-temannya, bisa dibilang genknya. Karena pada waktu itu sedang model genk (kelomopok-kelompok kecil). Aku mengira dia juga mengenalku karena ini bukan pertama kalinya kami bertemu. Mataku selalu memperhatikannya dan aku juga berusaha mengambil perhatiannya dengan cara mendekatinya sedikit demi sedikit.pertama kali aku bertemu dengannya adalah disaat bulan ramadhan. Aku selalu solat terawih di masjid sudirman. Letaknya cukup jauh dari rumahku. Disana lah dan diwaktu itulah aku bertemu dengannya. Saat mata bertemu mata, disanalah aku merasakan rasa yang aneh.  Rasa yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Rasa itu membuatku selalu ingi melihatnya dan aku selalu ingin terlihat dihadapannya. Selama bulan ramadhan itu aku selalu solat terawih di masjid yang sama dengannya. Alasanku adalah supaya selalu bisa melihatnya. Setiap aku melihatnya dia selalu bersama genk kecilnya itu. Itu membuatku terganggu dengan kehadiran teman-temannya itu. Aku mulai sadar dengan perasaan yang aneh ini. Aku tau aku mulai menyukainya.
Aku belum tahu namanya dan dimana dia tinggal sampai malam terakhir terawih. Setelah malam terakhir itu aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Aku selalu menulis diary dan menuliskan “si putih” sebutanku untuknya karena aku belum tahu namanya dan saat aku bertemu dengannya di acara tujuh belasan dia mengenakan kaos putih dan membawa sarung yang biasa dia gunakan untuk “tawuran sarung” yang saat itu sedang booming dikalangan anak-anak.
Pada suatu waktu aku tidak sengaja bertemu dengannya. Sepertinya dia baru pulang dari sekolah. Dan akhirnya aku tahu dia bersekolah si SD mana. Ternyata sekolahnya tidak jauh dari rumahku yang artinya dia mungkin selalu melewati rumahku untuk mencapai sekolahnya. Keesokan akhirnya aku menunggu di depan jendela rumahku dan berharap dia lewat. Tidak lama kemudian dia berjalan melewati depan rumahku. Saat itu aku senang sekali karena bisa melihatnya walaupun hanya sekilas. Aku mengingat jam berapa dia biasa lewat supaya aku bisa melihatnya lagi. Keesokan harinya lagi, aku mencoba untuk membuatnya ingat padaku lagi. Aku menunggpu di pinggir lapangan yang juga biasa dia lewati saat berangkat sekolah. Aku memakai pakaian yang aku pakai saat acara tujuh belasan itu. Tapi saat dia lewat dia, dia tidak menoleh sedikitpun kearahku, padahal aku sudah terseyum semanis mungkin saat itu. Usaha ku untuk membuatnya ingat padaku sia-sia.
Aku merasa tidak ada kesempatan untuk aku bisa mengenalnya lebih jauh. Aku memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi. Waktu terus berlalu, mungkin sudah lewat dua tahun saat aku bertemu dengannya.
Aku masuk ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi lagi. Aku sekarang adalah murid SMP dari sebuah SMP Negeri di daerah rumahku. Saat aku mulai menjadi seorang murid SMP, aku mengalami hal yang kurang beruntung. Saat angkatanku masuk, ternyata sekolah ku sedang dalam pembangunan. Itu membuat kami sebagai angkatan baru dan angkatan-angkatan sebelumnya numpang di sekolah dasar yang letaknya tidak jauh dari sekolah kami. Aku tidak pernah berharap dan menyangka akan bertemu dengannya lagi di sekolah ini. Ternyata aku bersekolah di SMP yang sama dengannya. Dia adalah kakak kelasku. Aku merasa ini kebetulan apa memang kami seharusnya bertemu. Saat aku melihatnya di gedung yang sama denganku, itu membuat perasaan yang telah lama hilang itu muncul lagi, dan perasaan itu mulai menemukan titik terang. Mungkin ini bukan lagi harapan tapi kenyataan yang memang ada dan menghampiriku. Aku mulai lagi mencari tahu tentangnya. Dikelas berapa dia belajar, nomor absennya berapa, nama lengkapnya siapa, ekskul apa yang dia ikuti.
Mataku selalu memperhatikan kemana langkahnya pergi. Saat ada kesempatan untuk mendekatinya, aku tidak buang-buang kesempatan itu. Misalnya saat istirahat, dia sedang jajan apa, aku juga ikut membeli jajanan itu supaya aku bisa bersebelahan dengannya walaupun sebentar. Ada saat dimana aku bisa pulang dan satu angkot dengannya, walaupun dia tidak sadar akan kehadiranku diangkot itu. Akhirnya aku tau dimana dia tinggal. Rumahnya hanya berbeda RT saja denganku. Sepanjang perjalanan pulang aku selalu tersenyum karena senang bisa melihatnya dari dekat walaupun dari belakang. Saat dirumah pun aku masih memikirkannya, berharap bisa bertemu lagi saat aku berangkat ataupun pulang sekolah.
Keesokan harinya di sekolah, saat jam pelajaran olahraga, aku bersama beberapa teman ku duduk di pinggiran lapangan sekolah. Memerhatikan murid lain yang juga sedang berolahraga. Ada sosok yang aku kenal diantara murid-murid yang sedang berolahraga itu. Semakin aku perhatikan ternyata sosok itu adalah dia. Ternyata jam pelajaran olahraga kami sama, jadi aku bisa selalu melihatnya saat pelajaran olahraga berlangsung.  Hal yang paling aku suka saat melihatnya adalah saat dia terseyum lepas, saat dia tersenyum aka nada dua buah lesung di pipi kana dan kirinya. Itulah yang membuatnya terlihat manis. Ada satu hal lagi yang menjadi cirri khasnya, yaitu dia selalu memakai topi yang ujungnya selalu ia lipat kedalam supaya menjadi lengkungan dalam. Aku selalu berpikir ingin membelikannya sebuah topi yang mungkin bisa dia pakai dan menggantikan topinya yang lama itu.
Sudah hampir satu semester aku menjadi siswi SMP dan bersekolah di sekolah yang sama dengannya tapi aku masih belum tahu siapa namanya. Yang aku tahu hanya nama panggilannya yaitu, Rio. Aku tahu karena teman-temannya selalu memanggilnya dengan nama Rio. Saat-saat itulah yang membuatku semakin penasaran dan semakin ingin tahu tentangnya. Mungkin ini kesempatan yang diberikan tuhan padaku, aku tidak sengaja masuk kekelas 3-5, itu adalah kelasnya. Saat itu kelasnya kosong karena sudah jam pulang sekolah. Aku tidak sengaja menemukan absen kelasnya. Dan disana aku tahu kalo nama lengkapnya adalah, Satrio Mugo Diarto, itulah nama cinta pertamaku. Namanya cukup bagus, mungkin dia memang seorang satria di hatiku. Saat aku menemukan absen itu, aku langsung mencatat nama lengkapnya dan nomor absennya. Hari itu rasanya benar-benar menjadi hari keberuntunganku. Dari pulang sekolah samapi dirumah, dari sore sampai malam hanya nama itu yang aku pikirkan, Satrio Mugo Diarto.
Aku berharap dia juga melakukan hal sama seperti yang aku lakukan untuk bisa mengenalnya. Tapi sayang, aku telat bertemu dengannya, telat mengenalnya. Dia ternyata sudah memiliki dambaan hatinya. Saat aku mendengar dia sudah mempunyai pacar aku langsung mencarinya agar aku bisa melihat sendiri. Ternyata memang benar dia sudah punya pacar. Rasanya hati ini berasa dibagi dua bagian saat melihat kebersamaan dia dan pasangannya itu. Aku merasa hancur, dan menyalahkan diriku sendiri. Usaha-usahaku selama ini untuk menarik perhatiannya, mencari tahu siapa dia, itu semuanya hanya sia-sia. Aku tidak bisa dekat dengannya lagi. Rasanya saat memandang dia itu adalah dosa sekarang. Aku memutuskan menghentikan usahaku untuk bisa menjadi orang yang bisa dekat dengannya. Aku mulai menjauh saat aku bertemu dengannya, aku berusaha memalingkan wajahku supaya aku tidak melihatnya.
Tiba saat dia harus meninggalkan sekolah ini karena dia sudah lulus dari sekolah menengah pertama dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Terakhir kalinya aku melihatnya adalah saat dia mengambil ijazah di sekolah. Saat itu aku melihat senyumnya yang lebar. Tanpa aku sadari, aku ikut tersenyum saat melihat senyumnya. Saat aku memikirkan dan berharap dia melihatku, itu pun terjadi. Dia melihat kearahku, aku pun melihat kearahnya. Saat mataku bertemu matanya aku berharap dia bisa tahu perasaan yang aku simpan untuknya. Namun sayang, kontak mata yang kami lakukan tidak lama, karena ada seseorang yang memanggilnya. Seseorang itu adalah pacarnya. Saat itu aku berdoa dan berharap sekali dia memutuskan pacarnya dan berlari kearahku dan mengungkapkan rasa yang sama seperti yang aku rasakan.
Setelah dia lulus aku menjadi kurang semangat kerana tidak ada lagi yang bisa membuatku semangat sekolah. Tidak ada lagi yang bisa aku perhatikan disekolah ini. Aku berharap bisa bertemu dengannya lagi walaupun berbeda sekolah sekarang. Setiap pulang sekolah aku selalu melewati rumahnya dan berharap ada dia sedang berdiri di depan rumahnya.
Sayang, semakin aku berharap semakin sakit hati ini. Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Aku berpikir untuk menjadikannya sebagai cerita cinta monyetku di SMP. Dan menjadikannya cinta pertamaku yang selalu aku ingat sampai sekarang, “Satrio Mugo Diarto”.